Sebelumnya, BMKG juga memproyeksikan El Nino masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Peluang fenomena tersebut mencapai kategori sangat kuat diperkirakan mencapai 75 persen, dengan dampak berupa berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia setidaknya hingga Oktober 2026.
Karena itu, BMKG memfokuskan upaya mitigasi pada dua ancaman utama, yakni kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Untuk mengantisipasi kekeringan, BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan sejumlah pihak lainnya untuk membantu pengisian waduk.
Sementara itu, untuk mencegah karhutla, operasi modifikasi cuaca diprioritaskan di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
"Itu juga dilakukan secara berkala Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana agar dia tidak mudah terbakar," ujar Faisal.
Selain melakukan modifikasi cuaca, Faisal memastikan BMKG juga terus memantau perkembangan kondisi atmosfer di seluruh wilayah Indonesia sebagai dasar penentuan langkah mitigasi yang berbasis ilmiah dalam menghadapi dampak El Nino.
(Dhera Arizona)