sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Erupsi Anak Krakatau Tak Selalu Berujung Tsunami, Ini Penjelasan Ahli

News editor Binti Mufarida
10/10/2026 18:08 WIB
Potensi tsunami dapat terjadi apabila terdapat mekanisme pemicu tertentu, salah satunya longsoran tubuh gunung api dalam volume besar ke laut.
Erupsi Anak Krakatau Tak Selalu Berujung Tsunami, Ini Penjelasan Ahli (Foto: dok BNPB)
Erupsi Anak Krakatau Tak Selalu Berujung Tsunami, Ini Penjelasan Ahli (Foto: dok BNPB)

IDXChannel - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menegaskan, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak otomatis memicu tsunami. 

Potensi tsunami dapat terjadi apabila terdapat mekanisme pemicu tertentu, salah satunya longsoran tubuh gunung api dalam volume besar ke laut.

Karena itu, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta meningkatkan kewaspadaan tanpa langsung mengaitkan peningkatan aktivitas vulkanik Anak Krakatau dengan ancaman tsunami.

"Keputusan tersebut tentu didasarkan pada hasil pemantauan dan evaluasi ilmiah terhadap perkembangan aktivitas vulkanik, baik melalui pengamatan visual, kegempaan, maupun parameter pemantauan lainnya," ujar Daryono dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).

Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 14 kali erupsi selama periode 6–9 Oktober 2026. Meski demikian, sejumlah parameter kegempaan dan deformasi belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Daryono menilai, kenaikan status tersebut merupakan langkah mitigasi dini untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas gunung api, bukan pertanda bahwa bencana besar pasti terjadi.

"Saya memandang bahwa peningkatan status ini harus dipahami sebagai langkah kewaspadaan dan mitigasi dini, bukan sebagai alasan untuk panik," ujarnya.

Terkait risiko tsunami, Daryono menjelaskan bahwa gunung api yang berada di wilayah kepulauan, seperti Anak Krakatau, memiliki karakteristik bahaya yang kompleks. Namun, erupsi tidak serta-merta menyebabkan tsunami karena fenomena tersebut memerlukan mekanisme pemicu tertentu.

Salah satu mekanisme yang dapat memicu tsunami adalah longsoran tubuh gunung api ke laut. Oleh sebab itu, potensi bahaya perlu dipahami berdasarkan kondisi dan perkembangan aktivitas gunung, bukan melalui spekulasi bahwa tsunami akan segera terjadi.

Daryono juga meminta masyarakat mengikuti hasil analisis dan rekomendasi PVMBG Badan Geologi sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dan kompetensi teknis dalam memantau aktivitas gunung api.

Sesuai rekomendasi Badan Geologi, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi mengenai tsunami yang tidak jelas sumbernya, serta mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Di sisi lain, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Aktivitas juga dilarang dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau.

Bahaya lain yang perlu diwaspadai meliputi lontaran material pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta kemungkinan erupsi sekunder akibat interaksi material panas dengan air laut maupun air hujan.

Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, pemerintah daerah bersama BPBD perlu memastikan kesiapan komunikasi risiko, jalur dan tempat evakuasi, serta mekanisme penyampaian peringatan kepada masyarakat pesisir apabila kondisi mengharuskan tindakan cepat.

Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan berbahaya, tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya, dan terus memantau informasi resmi dari PVMBG Badan Geologi serta arahan BPBD.

"Peningkatan status gunung api bukan berarti bencana besar pasti akan terjadi. Status Siaga merupakan dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tindakan pencegahan sebelum risiko berkembang menjadi bencana," ujarnya.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement