sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

GAIKINDO dan Bosch Indonesia Pamerkan Teknologi Keselamatan Otomotif di GIIAS 2026

News editor Kurnia Nadya
07/08/2026 14:35 WIB
GAIKINDO dan Bosch Indonesia menampilkan teknologi keselamatan kendaraan di Booth Safety & Advanced Technology.
GAIKINDO dan Bosch Indonesia Pamerkan Teknologi Keselamatan Otomotif di GIIAS 2026. (Foto: Bosch Indonesia)
GAIKINDO dan Bosch Indonesia Pamerkan Teknologi Keselamatan Otomotif di GIIAS 2026. (Foto: Bosch Indonesia)

IDXChannel—Industri otomotif memasuki babak baru. Jika sebelumnya persaingan berfokus pada tenaga mesin, efisiensi, atau desain kendaraan, kini kemampuan kendaraan mengenali risiko dan membantu mencegah kecelakaan mulai menjadi faktor pembeda. 

Pergeseran ini menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka pada GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. 

Hal tersebut sejalan dengan pesan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka GIIAS 2026. Menurutnya, keputusan investasi, teknologi, dan pendalaman industri yang diambil saat ini akan menentukan wajah industri otomotif nasional pada 2035. 

Tema GIIAS 2026, Eye of the Future, menempatkan inovasi kendaraan sebagai penggerak utama masa depan mobilitas. Bagi GAIKINDO, kemajuan kendaraan tidak lagi hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari kemampuannya membantu melindungi pengemudi dan pengguna jalan.

Ardhana Wiranata, Vice Compartment Future Automotive Technology & Renewable Energy GAIKINDO, mengatakan perkembangan industri otomotif kini tidak lagi hanya diukur dari peningkatan performa dan efisiensi kendaraan. 

Menurutnya, kemampuan kendaraan untuk membantu mengurangi risiko kecelakaan akan menjadi ukuran penting dalam perkembangan industri ke depan.

"Perkembangan teknologi terus mendorong budaya berkendara yang semakin aman, nyaman, dan efisien. Karena itu, tantangan industri ke depan bukan hanya menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dipahami dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat," ujarnya.

Salah satu gambaran mengenai perkembangan tersebut ditampilkan melalui Booth Safety & Advanced Technology GAIKINDO bersama Bosch Indonesia. Di area ini, pengunjung dapat melihat bagaimana berbagai teknologi keselamatan bekerja sebagai satu sistem untuk membantu pengemudi mengenali risiko dan merespons situasi berbahaya. 

Risiko di jalan muncul dalam hitungan detik. Kendaraan di depan dapat mengerem mendadak, pejalan kaki tiba-tiba menyeberang, atau sepeda motor muncul dari titik buta. Dalam kondisi seperti itu, yang menentukan bukan lagi sekadar refleks pengemudi, tetapi juga seberapa cepat kendaraan mampu mengenali risiko dan memberikan bantuan yang tepat. 

"Perkembangan teknologi keselamatan bukan lagi sekadar tentang menambah fitur pada kendaraan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dapat memberikan dukungan yang tepat pada situasi yang tepat, terutama ketika kondisi berkendara dan interaksi antar pengguna jalan semakin kompleks," ujar Director of Mobility Solution Bosch Indonesia, Bernard Simanjuntak.

Bosch menjelaskan proses tersebut melalui tiga tahapan yang saling terhubung: Sense, Think, dan Act.

1. Sense: ”Mata” Tambahan Kendaraan

Pandangan pengemudi tidak selalu mampu menjangkau seluruh area di sekitar kendaraan. Dalam kondisi ini, Multi-Purpose Camera membantu mengenali marka dan pengguna jalan lain, Radar Sensor mengukur jarak serta kecepatan objek, sementara Ultrasonic Sensor mendeteksi benda dalam jarak dekat. Ketiganya bekerja layaknya “mata” tambahan yang terus membaca lingkungan sekitar.

2. Think: ”Otak” yang Membaca Risiko

Setelah berbagai sensor mengenali kondisi di sekitar kendaraan, informasi dari berbagai sensor kemudian diolah oleh sistem komputasi. Perangkat lunak menganalisis perubahan situasi, memperkirakan potensi risiko, dan menentukan apakah diperlukan respons tertentu. 

Dalam hitungan milidetik, sistem komputasi mengolah seluruh informasi tersebut untuk memahami kondisi di sekitar kendaraan sebelum menentukan respons yang diperlukan.

3. Act: ”Refleks” saat Waktu Terbatas

Ketika risiko tabrakan meningkat, waktu pengemudi untuk bereaksi semakin sempit. Integrated Power Brake membantu menghasilkan respons pengereman yang cepat dan presisi untuk mengurangi kecepatan atau dampak benturan. Fungsinya menyerupai ”refleks” tambahan, tanpa menggantikan kendali pengemudi.

Melalui rangkaian proses tersebut, sistem keselamatan modern tidak lagi hanya dirancang untuk mengurangi dampak kecelakaan, tetapi juga membantu pengemudi mengantisipasi risiko lebih dini. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang kecelakaan dapat dihindari. 

Arah tersebut sejalan dengan upaya peningkatan keselamatan jalan di tingkat global maupun nasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Global Road Safety Target 5 mengatakan bahwa seluruh kendaraan akan memenuhi standar keselamatan yang lebih tinggi pada 2030. 

Di Indonesia, Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juga menempatkan keselamatan kendaraan dan pengguna jalan sebagai dua dari lima pilar utama keselamatan jalan. 

Menyiapkan Ekosistem Keselamatan Menuju Industri Otomotif 2035 

Menghadirkan teknologi saja tidak cukup. Seiring berkembangnya sistem keselamatan kendaraan, industri perlu memiliki kemampuan untuk memahami, mengembangkan, dan menguasai teknologi tersebut. 

Secara bersamaan, keselamatan juga bergantung pada pemeliharaan kendaraan agar seluruh sistem tetap bekerja secara optimal sepanjang masa pakainya. 

Karena itu, kehadiran Bosch di GIIAS tidak hanya memperkenalkan solusi keselamatan, tetapi juga menjadi ruang edukasi mengenai cara kerja teknologi keselamatan modern sekaligus berbagi pengetahuan mengenai penerapannya di industri otomotif. 

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui divisi Mobility Aftermarket yang menghadirkan berbagai produk penunjang keselamatan berkendara, seperti wiper, klakson, busi, filter, lampu, dan komponen otomotif lainnya. 

Jika teknologi keselamatan pada kendaraan membantu mengenali dan merespons risiko, maka pemeliharaan kendaraan yang baik memastikan seluruh sistem tersebut tetap bekerja secara optimal sepanjang masa pakai kendaraan. 

Pada GIIAS 2026, Bosch juga mengajak masyarakat berkontribusi terhadap keselamatan di jalan melalui program sosial. Setiap pembelian 1 pasang wiper Bosch Advantage dan Clear Advantage selama pameran akan dikonversikan menjadi donasi untuk mendukung peremajaan 100 unit ambulans di berbagai daerah di Indonesia. 

Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya Bosch untuk menghadirkan dampak nyata bagi keselamatan masyarakat, tidak hanya melalui inovasi teknologi, tetapi juga melalui kendaraan yang berperan penting dalam layanan kegawatdaruratan. 


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement