Sebelumnya, pasukan AS menyerang dan melumpuhkan tiga kapal tanker minyak Iran pada akhir pekan lalu. Hal ini merupakan sebuah tindakan yang menurut Washington adalah balasan atas serangan rudal balistik oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menargetkan dua kapal perang Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.
Sementara itu, aktivitas pelayaran yang melintasi selat tersebut telah merosot ke tingkat terendah sejak bulan Mei, menurut data pelayaran yang dikutip dalam berbagai laporan media.
Hanya dua kapal yang melintasi jalur perairan tersebut pada hari Sabtu, diikuti oleh enam kapal pada hari Minggu. Rata-rata pergerakan 10 hari turun menjadi 10 kapal.
Sebelum pecahnya perang Iran pada akhir Februari, sekitar 125 kapal komoditas berukuran besar melintasi selat tersebut setiap harinya, mencakup sekitar seperlima dari total lalu lintas kapal tanker global.
Sementara itu, kelangkaan pasokan energi akibat penutupan efektif Selat Hormuz telah mengguncang pasar global; para pelaku pasar khawatir akan kemungkinan lonjakan harga minyak yang dapat memicu kenaikan inflasi dan suku bunga.