sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ancaman Blokade Minyak Iran Menurun di Tengah Pengawasan AS

News editor Kunthi Fahmar Sandy
06/09/2026 03:38 WIB
Blokade angkatan laut AS telah menghalangi Iran mengirimkan minyak dari Teluk Persia sejak bulan Juli.
Ancaman Blokade Minyak Iran Menurun di Tengah Pengawasan AS (FOTO:iNews Media Group)
Ancaman Blokade Minyak Iran Menurun di Tengah Pengawasan AS (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Di tengah tekanan ekonomi kian meningkat yang dihadapi Teheran setelah enam bulan konflik, upaya Iran untuk menekan pasar minyak global dengan membatasi lalu lintas di Selat Hormuz mulai berkurang dampaknya.

Hal ini seiring bantuan AS kepada produsen minyak Teluk untuk menjaga kelancaran arus minyak mentah, demikian dilaporkan Wall Street Journal.

Dilansir dari laman Investing Sabtu (5/9/2026), Blokade angkatan laut AS telah menghalangi Iran mengirimkan minyak dari Teluk Persia sejak bulan Juli.

Sementara itu, Washington telah membantu negara-negara Arab di kawasan Teluk untuk menyalurkan minyak dalam jumlah besar melalui Selat Hormuz, meskipun ada serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) dari Iran.

Menurut TankerTrackers.com, rata-rata sekitar 5 juta barel minyak mentah yang hampir seluruhnya bukan berasal dari Iran melintasi selat tersebut selama periode 28 hari terakhir.

Sementara itu, sebanyak 2,5 juta barel lainnya per hari disalurkan melalui pelabuhan-pelabuhan di Teluk Oman, termasuk Fujairah di Uni Emirat Arab. Volume tersebut mencakup lebih dari 40 ppersen dari arus minyak kawasan itu sebelum konflik terjadi. Harga minyak mentah global tetap berada di bawah USD100 per barel, yang sebagian terbantu oleh langkah China dalam memanfaatkan cadangan domestik dan mengurangi impor.

Hal tersebut melemahkan kemampuan Teheran untuk memanfaatkan Selat Hormuz guna memicu guncangan ekonomi global seperti yang mereka perkirakan. Di sisi lain, blokade Washington juga belum berhasil memaksa Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut ataupun mengubah perilaku pemerintah Iran secara lebih luas.

Tekanan ekonomi di dalam negeri Iran kian meningkat. Nilai mata uang rial merosot, inflasi melonjak, dan kelangkaan bensin menjadi hal yang umum terjadi. Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa volume perdagangan negara tersebut telah turun antara 25 persen hingga 35 persen.

Perekonomian negara-negara Teluk lainnya juga turut terdampak akibat masih terhambatnya pengiriman gas alam cair (LNG), pupuk, dan komoditas lainnya, terutama bagi negara-negara yang tidak memiliki akses laut alternatif.

Iran terus melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas militer AS, namun sejauh ini menghindari serangan berskala lebih besar terhadap Arab Saudi dan UEA. Demikian pula, AS menahan diri untuk tidak menyerang kota-kota besar Iran maupun jajaran pimpinan negara tersebut.

Teheran kini menghadapi pilihan sulit seiring mendekatnya batas waktu dari perkiraan awal mereka—bahwa mereka mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi berat selama sekitar lima bulan—yaitu antara kembali ke meja perundingan atau melakukan eskalasi militer guna meningkatkan tekanan terhadap Washington.

Pemilihan umum sela AS pada bulan November dapat memperumit perhitungan tersebut. Para pemimpin Iran mungkin merasa tidak memiliki banyak alasan untuk melonggarkan pembatasan dan menurunkan harga energi sebelum pemungutan suara berlangsung, sehingga pasar minyak tetap rentan terhadap risiko eskalasi baru di kawasan Selat Hormuz.

(kunthi fahmar sandy)

Advertisement
Advertisement