Gharibabadi mengatakan bahwa sebagian besar rute pelayaran akan melewati perairan teritorial Iran, sementara sisanya akan melalui perairan Oman.
"Rute yang saat ini ada akan ditutup, rute baru akan digunakan untuk jangka waktu dua hingga empat bulan atau berpotensi lebih lama," ujar Gharibabadi.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali lumpuh setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) mengakhiri gencatan senjata bulan lalu. Perang pecah setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Lumpuhnya Selat Hormuz mengganggu sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, yang menyebabkan kenaikan harga.
Baghaei menekankan bahwa penutupan jalur maritim tersebut disebabkan oleh agresi militer AS dan rezim Zionis terhadap Iran.