"Teman-teman (awak media massa) harus melihat videonya, ada yang betul-betul hoaks atau kejadiannya tidak ada, ada hoaks gabungan memakai gambar lama, dan ada yang menggabungkan kejadian negara lain seolah di Indonesia. Kami ingin teman-teman media meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang disinformasi," jelasnya.
Seturut itu, dia mendesak para pembuat konten provokatif untuk menghentikan penyebaran berita palsu yang sengaja memicu kecemasan di tengah masyarakat. Praktik penyebaran hoaks tersebut dinilai mencederai nilai-nilai demokrasi serta mengikis semangat gotong royong bangsa dalam menyambut hari kemerdekaan.
"Kami memohon kepada yang ingin memprovokasi, kasihan masyarakat karena informasi palsu berdampak pada keputusan harian orang per orang, ada yang takut keluar atau khawatir saat bekerja," ungkap Meutya.
(Nadya Kurnia)