IDXChannel - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional 16 bandar udara (bandara) di wilayah Papua akibat kabut asap yang berpotensi menurunkan jarak pandang. Secara nasional, sebanyak 1.067 penerbangan berjadwal domestik tercatat dibatalkan atau ditunda akibat karhutla sejak 11 Agustus 2026.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan terus memantau dampak karhutla terhadap operasional penerbangan, termasuk di wilayah Papua. Berdasarkan laporan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X per 15 Oktober 2026, gangguan akibat kabut asap terjadi di 16 bandara yang tersebar di empat provinsi.
Di Provinsi Papua, bandara yang terdampak adalah Sentani. Sementara itu, di Papua Tengah, gangguan terjadi di Bandara Mozes Kilangin di Timika, Ilaga, dan Ilu.
Kemudian di Papua Pegunungan, bandara terdampak meliputi Wamena, Oksibil, dan Dekai. Di Papua Selatan, terdapat sembilan bandara yang mengalami dampak, yakni Mopah di Merauke, Tanah Merah, Kepi, Ewer, Bade, Senggo, Manggelum, Yaniruma, dan Mindiptanah.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa mengatakan, kondisi asap dapat mengurangi jarak pandang di sekitar bandar udara, sehingga berpotensi mengganggu jadwal penerbangan.
"Gangguan tersebut dapat berupa keterlambatan, penundaan, pembatalan, hingga pengalihan penerbangan ke bandar udara lain. Keputusan operasional tetap mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).
Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara per 13 Oktober 2026, total terdapat 2.021 penerbangan berjadwal domestik yang terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan dan 1.067 penerbangan dibatalkan atau ditunda.
Selain itu, sebanyak 18 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain, enam penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan atau return to base (RTB), serta 11 penerbangan dimajukan jadwalnya.
Dampak karhutla juga menjalar ke penerbangan internasional. Sebanyak 12 penerbangan rute Singapura–Pontianak pulang pergi dibatalkan selama periode 12–23 September 2026 akibat kondisi asap di Bandar Udara Supadio, Pontianak.
Di luar gangguan akibat karhutla, Kemenhub juga mencatat 18 penerbangan domestik dibatalkan karena faktor lain, antara lain sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.
Untuk menangani karhutla, operasi pemadaman melalui udara atau water bombing terus dilakukan di sejumlah wilayah rawan. Selama periode 20 April hingga 12 Oktober 2026, operasi tersebut telah mencapai 5.035 siklus penerbangan dengan melibatkan 38 pesawat dari 11 operator.
Ditjen Perhubungan Udara melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga Wilayah X juga terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan.
Kemenhub mengimbau masyarakat yang akan bepergian menggunakan pesawat untuk memantau informasi penerbangan terkini melalui maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara. Penumpang juga diminta memahami kemungkinan penyesuaian jadwal akibat kondisi asap dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
(Dhera Arizona)