IDXChannel—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di sektor mode dan kriya untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi desain.
Kebutuhan pasar yang beragam menuntut pelaku usaha untuk memahami perubahan tren dan kebutuhan konsumen agar produknya memiliki nilai tambah.
Kemenperin menilai desain memiliki peran penting dalam pengembangan produk. Desain tidak hanya berkaitan dengan tampilan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi bisnis untuk menciptakan produk yang memiliki karakter serta mampu menarik minat konsumen.
Penguatan identitas merek melalui inovasi produk menjadi peluang untuk menciptakan nilai ekonomi lebih tinggi.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, pengembangan produk IKM perlu semakin berorientasi pada kebutuhan pasar.
Kementerian Perindustrian terus memperkuat kapasitas dan daya saing IKM melalui berbagai program pembinaan yang mencakup pengembangan sumber daya manusia, inovasi produk, peningkatan kemampuan usaha, serta perluasan akses pasar dan jejaring bisnis.
“Pengembangan produk tidak cukup hanya berangkat dari pertanyaan mengenai apa yang dapat diproduksi, tetapi juga perlu mempertimbangkan siapa konsumennya, apa kebutuhannya, serta peluang apa yang dapat dijawab melalui produk tersebut. Dalam proses inilah desain memiliki peran yang penting,” ujar Reni dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Kemenperin juga memberikan pendampingan kepada pelaku IKM melalui berbagai program pengembangan usaha. Salah satunya melalui Creative Business Incubator (CBI), yang memberikan pembelajaran dan pendampingan terkait pengembangan bisnis, jejaring usaha, hingga akses terhadap peluang kerja sama dan pendanaan.
Upaya penguatan sektor mode dan kriya tersebut sejalan dengan potensi ekonomi yang dimiliki industri tersebut. Kemenperin mencatat pertumbuhan industri mode dan kriya meningkat dari 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.
Sementara itu, pada Januari-April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai sekitar Rp4,08 triliun. Pada periode yang sama, ekspor pakaian jadi mencapai sekitar Rp49,76 triliun, sedangkan ekspor tekstil mencapai sekitar Rp18,62 triliun.
Melalui potensi tersebut, pengembangan desain yang berorientasi pada kebutuhan pasar diharapkan dapat membantu IKM mode dan kriya memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah produknya.
(Birru Aisyah)