Sepanjang 2025, lanjut Prasetyo, pemerintah telah membangun 15 pembangkit EBT (12 PLTS dan 3 PLTMH) senilai Rp103,3 miliar, melayani 1.831 kepala keluarga dan 131 fasilitas umum. Pada 2026, pembangunan berlanjut di 39 lokasi PLTS Terpadu wilayah 3T untuk 4.259 rumah tangga (Rp450,2 miliar) dan 3 lokasi PLTMH untuk 464 rumah tangga (Rp50,4 miliar).
"Program Listrik Desa telah menjangkau 1.403 lokasi di 36 provinsi, dengan 220.845 rumah tangga tidak mampu menerima manfaat BPBL," ujarnya.
Prasetyo menambahkan, program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi pembangkit, baterai, dan jaringan, penguatan industri solar PV dalam negeri, serta penciptaan green jobs.
"RUPTL 2025-2034 diproyeksikan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan pekerjaan, lebih dari 760 ribu di antaranya berpotensi menjadi green jobs," jelasnya.
Pemerintah memastikan pembangunan PLTS 100 GWp akan terus dikawal secara bertahap dan terukur, sejalan dengan komitmen mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri, tangguh, dan kompetitif di bidang energi.
(Nadya Kurnia)