IDXChannel—Pemerintah Singapura mulai menyediakan subsidi bagi warga setempat untuk pengobatan atas keluhan-keluhan medis yang disebabkan oleh kabut asap. Saat ini, negara tersebut masih menerima dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Melansir CNA (12/10/2026), kualitas udara dilaporkan tidak sehat dengan hasil Pollutant Standard Index (PSI) mencapai 104-147. Tingkat polutan PM2.5 mencapai puncak tertinggi di pusat wilayah dengan angka 156.
Hingga saat ini, kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kawasan hutan di Indonesia belum padam sepenuhnya. Ratusan titik api kembali muncul di daerah tertentu. Sementara kabut asap telah lama tiba di Singapura, Malaysia, hingga Filipina.
Mengantisipasi peningkatan keluhan kesehatan akibat kabut asap kiriman dari Indonesia, pemerintah Singapura menyediakan pelayanan bersubsidi di pusat kesehatan umum (Public Health Preparedness Clinics) dan poliklinik untuk warga setempat.
Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, mengatakan pemberlakuan program ini dimulai pada 12 Oktober dan bertujuan untuk memberikan penolongan pertama bagi masyarakat atas keluhan yang berkaitan dengan kabut asap.
Semua warga Singapura berhak mendapatkan pelayanan bersubdisi ini. Masyarakat umum akan mendapatkan pelayanan bersubdisi di poliklinik, sementara layanan di pusat kesehatan umum dibatasi hanya untuk anak-anak dan lansia.
Program subsidi ‘kabut asap’ ini pernah diberlakukan oleh Singapura pada 2015, ketika kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia juga menyebar di negara tersebut selama berminggu-minggu.
Adapun beberapa kondisi yang termasuk dalam program subsidi ini adalah rhinitis alergi, asma, bronkitis, conjunctivitis, chronic obstructive pulmonary disease, upper respiratory tract infection, berikut komplikasinya.
Penanganan pertama di pusat kesehatan umum dan poliklinik diharapkan dapat meringkan keluhan pasien, sehingga pasien tidak perlu dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat. Namun, Ong memastikan pasien yang membutuhkan pertolongan lanjut akan dibawa ke IGD.
(Nadya Kurnia)