Sejumlah media internasional melaporkan proposal pemerintahan Trump mencakup penghentian sementara pengayaan uranium oleh Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi AS.
Selain itu, kedua negara disebut akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sebelumnya, militer Iran mengancam negara-negara nonsekutu yang melintasi wilayah tersebut dan menempatkan ranjau sejak konflik dengan AS dan Israel pecah pada 28 Februari. Sementara itu, Angkatan Laut AS telah memblokade pelabuhan Iran sejak 13 April.
Namun, The Wall Street Journal melaporkan respons Iran tidak mengikuti tuntutan Washington terkait pengayaan uranium. Proposal Teheran lebih menitikberatkan pada penghentian perang serta pembukaan Selat Hormuz secara bertahap.
Iran juga disebut mengusulkan agar sebagian uranium yang telah diperkaya diencerkan, sementara sisanya dipindahkan ke negara ketiga. Uranium tersebut nantinya akan dikembalikan ke Iran apabila negosiasi gagal atau Amerika Serikat keluar dari perjanjian di kemudian hari.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi pada Jumat (8/5/2026) lalu menegaskan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan dalam proses negosiasi dengan AS.
“Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan,” kata Araghchi.
(Rahmat Fiansyah)