"Kami dalam kondisi yang sangat, sangat baik," katanya.
Dalam beberapa minggu terakhir, AS dan Iran saling melancarkan serangan militer, dengan Washington menargetkan apa yang disebutnya sebagai situs militer milik Korps Garda Revolusi Iran, dan Teheran membalas dengan menargetkan apa yang digambarkannya sebagai fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk, khususnya Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Eskalasi ini terjadi meskipun ada nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Washington dan Teheran pada Juni dan dimulainya negosiasi menuju kesepakatan akhir. Pembicaraan kemudian terhenti karena perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur paling strategis di dunia untuk pasokan minyak dan gas global.
Trump pekan lalu mengancam akan menyerang Iran dengan sangat keras, memperingatkan bahwa ia dapat menargetkan fasilitas energi, jembatan, dan pembangkit listrik. Ia kemudian membatalkan rencana serangan dengan alasan Iran setuju untuk memulai kembali pembicaraan. Menurut beberapa media AS, menipisnya persediaan rudal pencegat juga menjadi faktor dalam keputusannya untuk menunda serangan tambahan terhadap Iran. (Wahyu Dwi Anggoro)