IDXChannel – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memerintahkan pasukan militer untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran yang dapat dimulai paling cepat akhir pekan ini dan bakal berlanjut selama beberapa hari ke depan.
Trump menyetujui rencana serangan tersebut selama rapat kabinet di Camp David pada Jumat (31/7/2026). Keputusan ini menyusul serangan Iran terhadap pasukan AS di Yordania dan serangan balasan Amerika pada Rabu lalu, demikian laporan Wall Street Journal (WSJ), mengutip pejabat Amerika.
Operasi yang direncanakan masih dapat ditangguhkan jika Washington dan Teheran segera mencapai kemajuan diplomatik. Pejabat AS juga memperingatkan bahwa Trump dapat mengubah keputusannya sebelum serangan dimulai.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump selama pertemuan yang disiarkan televisi tersebut. Ia berpendapat bahwa tekanan militer yang berkelanjutan akan memaksa Teheran untuk kembali bernegosiasi dan meninggalkan program nuklirnya.
Komentarnya menandai perubahan dari awal pekan ini, ketika ia mengatakan “negosiasi yang sangat ramah” sedang berlangsung dan menghentikan sementara operasi militer AS.
Trump menuduh para pejabat Iran berulang kali melanggar komitmen mereka dan menggambarkan mereka sebagai mitra negosiasi yang "sangat tidak terhormat". Para diplomat Iran juga menyebutkan ketidakpercayaan yang mendalam, dengan alasan bahwa ancaman militer Amerika merusak prospek kesepakatan.
Teheran mempertahankan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan sipil dan mengatakan bahwa mereka tidak mencari senjata atom. Tiga fasilitas pengayaan uranium utama Iran dihantam oleh AS tahun lalu.
Para pejabat Amerika mengatakan Iran saat ini tidak memperkaya uranium. Trump telah mengidentifikasi Gunung Pickaxe, tempat intelijen Israel percaya Iran menyimpan sentrifugal, sebagai salah satu target potensial untuk serangan di masa mendatang.
Garda Revolusi Islam Iran bersumpah pada Kamis untuk melanjutkan serangan setelah pembalasan AS terbaru.
Salah satu opsi yang diajukan kepada Trump melibatkan kampanye serangan udara intensif selama dua minggu yang bertujuan untuk melemahkan kemampuan rudal Iran. Meski begitu, penasihat militer telah menyampaikan kekhawatiran tentang penurunan persediaan amunisi AS.
Konflik ini memasuki bulan keenam dengan kedua belah pihak mempertahankan tuntutan inti mereka. Washington menginginkan Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan mengakhiri kendalinya atas Selat Hormuz, yang tetap menjadi pusat pengiriman minyak global. Teheran telah menolak kedua syarat tersebut. (Febrina Ratna Iskana)