IDXChannel - Sony (TYO:6758) pada Jumat (31/7/2026) mengumumkan peningkatan tajam dalam pendapatan dan laba kuartal pertama fiskalnya yang berakhir Juni. Perusahaan itu juga meningkatkan proyeksi tahunannya berkat kekuatan bisnis game dan pembuatan chipnya.
Pendapatan operasional dalam tiga bulan hingga 30 Juni 2026 melonjak 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 476,5 miliar yen (USD2,97 miliar), kata Sony dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Investing.com, Jumat (31/7/2026).
Penjualan meningkat 8 persen menjadi 2,84 triliun yen pada kuartal pertama, sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham naik 32 persen menjadi 342,2 miliar yen.
Saham Sony yang terdaftar di bursa Tokyo naik 11,7 persen menjadi 3.807,0 yen pada pukul 04:32 GMT.
Mencerminkan awal tahun yang lebih kuat, Sony percaya diri menaikkan perkiraan laba operasional fiskal 2026 menjadi 1,72 triliun yen dari 1,60 triliun yen yang diproyeksikan pada Mei 2026.
Sony juga meningkatkan proyeksi penjualannya menjadi 12,5 triliun yen dari 12,3 triliun yen dan menaikkan prospek laba bersihnya menjadi 1,21 triliun yen dari 1,16 triliun yen.
Perusahaan mengatakan panduan yang direvisi tersebut tidak termasuk dampak dari gempa bumi Kumamoto 28 Juli 2026 karena masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak keuangannya.
Bisnis pencitraan (imaging) dan penginderaan (sensing) merupakan kontributor terbesar terhadap pertumbuhan pendapatan, dengan laba operasional meningkat lebih dari dua kali lipat berkat penjualan sensor gambar seluler yang lebih kuat, bauran produk yang lebih baik, dan pergerakan nilai tukar yang menguntungkan.
Kontribusi kinerja keuangan juga berasal dari divisi Game & Network Services yang mencatatkan kenaikan laba operasional sebesar 37 persen, dibantu oleh pengembalian tarif AS dan keuntungan mata uang, sementara pengguna aktif bulanan PlayStation mencapai rekor 125 juta pada Juni.
Sony mengatakan permintaan global yang kuat terkait AI terus mendukung bisnis semikonduktornya, tetapi tetap berhati-hati terhadap paruh kedua tahun ini karena kondisi pasar memori dapat membebani pengiriman smartphone kelas atas. (Febrina Ratna Iskana)