“Kami yakin kita akan menghadapi berbagai tantangan disrupsi ke depannya dan kita tentunya harus siap. Itulah kenapa kita juga di Ekonomi Kreatif ini mendorong teman-teman kreator untuk mulai masuk ke dalam dunia AI untuk mempelajari dan juga nantinya bisa menerapkan,” tutur Neil.
Sementara itu, CEO Dicoding, Narendra Wicaksono, mengungkapkan bahwa dalam pelatihan yang sudah berjalan selama dua bulan ini, para peserta lebih banyak diajarkan berbagai hal fundamental terkait AI. Seperti karakter, cara kerja sampai bagaimana membuat promt (perintah) kepada AI untuk membuat sebuah sesuatu yang tidak biasa. Seperti website, sistem keuangan sampai kampanye pengembangan produk.
Teknik pengembangan AI (use case) yang telah dikuasai oleh para lulusan juga cukup banyak. Teknik tersebut menyesuaikan dengan latar belakang mereka, sehingga kemampuan AI dimiliki bisa mendukung kapabilitas mereka secara relevan di dunia kerja maupun industri atau ekonomi kreatif.
“Kalau tadi kita lihat ada yang dari industri manufaktur, ada yang dari dia mungkin kayak freelancer juga yang lagi mencoba mengembangkan produk. Jadi memang AI ini bisa bermanfaat buat hampir semua sektor industri dan memang pelatihan ini tujuannya untuk memastikan supaya semua orang yang bekerja di industri atau akan bekerja di industri itu bisa punya kapabilitas lebih. Sehingga mereka bisa relevan dengan kebutuhan industri dan akhirnya diserap,” ungkap Narendra.
Salah satu yang cukup mencuri perhatiannya adalah seorang peserta dengan latar belakang pebisnis sekaligus pencinta olahraga lari yang membuat materi kampanye produk hingga brand yang harus dibuat seperti apa. Hal itu menunjukkan bahwa membangun industri kreatif dengan AI bisa dilakukan sendiri tanpa harus melibatkan banyak orang.