Menurut perhitungan Toto, idealnya kapasitas pusat data Indonesia dapat mencapai 2,8 gigawatt (GW) berdasarkan proyeksi konsumsi layanan digital, komputasi awan (cloud), media sosial, serta adopsi AI.
Kebutuhan tersebut bahkan berpotensi membengkak hingga empat kali lipat seiring makin masifnya penggunaan AI yang membutuhkan daya komputasi dan konsumsi energi ekstra tinggi.
Toto menekankan pemenuhan fasilitas data center di dalam negeri sangat krusial untuk menjaga kedaulatan data nasional sekaligus menekan beban biaya transfer data antarnegara.
Ketergantungan pada pusat data asing, seperti di Singapura, akan memicu pembengkakan biaya infrastruktur penunjang dan kabel bawah laut (subsea cable).
“Bayangkan berapa besar biaya dan berapa banyak infrastruktur yang akan harus dibayar oleh pemerintah untuk mengakses datanya di luar negeri,” katanya.