"Pelanggan yang melihat nilai tambah pada satelit generasi pertama kami adalah mereka yang selama ini membayar mahal untuk mengunduh banyak data mentah lalu baru melakukan pemrosesan data," ucap Samantray, dikutip dari Reuters.
"Penghematan biaya dari tidak mengunduh data mentah tersebut menutup biaya tambahan yang mereka bayarkan untuk pemrosesan data di orbit," lanjutnya.
Berbeda dengan beberapa perusahaan antariksa seperti SpaceX atau Starcloud yang berencana menggunakan chip pusat data tingkat lanjut, wahana MOI-1A milik TakeMe2Space merupakan satelit edge-computing dengan daya sekitar 150 watt.
Langkah ini menyusul uji coba teknologi awal mereka pada akhir 2024 yang berhasil memvalidasi kemampuan mengunggah aplikasi, mengeksekusi inferensi AI di orbit, hingga mengirimkan hasil analisis ke Bumi.
Meskipun satelit penerusnya, MOI-1, sempat hilang akibat kegagalan tahap ketiga pada peluncuran sebelumnya, TakeMe2Space tetap optimistis melanjutkan pengembangannya.