Perang AS-Israel vs Iran Tekan Rupiah, Inflasi Ramadan Berpotensi Naik
Tekanan ekonomi global akibat konflik antara AS-Israel vs Iran berpotensi mendorong kenaikan inflasi di Indonesia
IDXChannel - Tekanan ekonomi global akibat konflik antara AS-Israel vs Iran berpotensi mendorong kenaikan inflasi di Indonesia menjelang Idulfitri 2026.
Kondisi ini juga berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya inflasi impor.
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan mengatakan, situasi ekonomi saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena momentum Ramadhan berlangsung bersamaan dengan tekanan global yang kuat.
Tekanan inflasi saat ini datang dari berbagai sumber, mulai dari kenaikan harga pangan, inflasi energi, hingga depresiasi nilai tukar rupiah yang memicu peningkatan inflasi impor.
"Dengan adanya tantangan-tantangan dari sisi inflasi bahan makanan, terus inflasi energi, nilai tukar terdepresiasi yang pada akhirnya meningkatkan inflasi impor, maka ini akan mempengaruhi inflasi secara keseluruhan," kata Abdul Manap dalam paparannya, Senin (9/3/2026).
Dia menyoroti perkembangan sejumlah indikator makroekonomi hingga Februari 2026. Inflasi tercatat mencapai sekitar 4,76 persen, sementara nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Di sisi lain, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berada di kisaran 6,39 persen, sementara harga minyak dunia meningkat tajam.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia bukan kabar baik bagi Indonesia yang saat ini berstatus sebagai negara pengimpor minyak. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Kalau situasi seperti ini, ini akan berat bagi kita karena di APBN di Februari sudah Rp135 triliun. Ini angka yang sangat tinggi, yang sangat membebani ekonomi selama 2026," tuturnya.
Dia menambahkan, konflik global juga berdampak pada pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan inflasi impor. Di sisi lain, inflasi dalam negeri sebenarnya sudah mulai meningkat bahkan sebelum konflik tersebut terjadi, terutama dari kenaikan harga bahan makanan.
Meski terdapat tambahan likuiditas dari pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), Abdul menilai dampaknya terhadap peningkatan daya beli masyarakat kemungkinan terbatas.
"Memang ada potensi tambahan likuiditas dari THR, tapi lagi-lagi kita lihat apakah THR ini berkontribusi terhadap peningkatan daya beli di tengah inflasi yang meningkat. Saya pikir tidak seperti itu karena bisa jadi THR ini hanya berguna untuk melindungi agar daya beli tidak signifikan turun ketika kenaikan inflasi cukup besar," tuturnya.
(DESI ANGRIANI)