Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Pasar, Begini Dampaknya ke IHSG
Lonjakan harga minyak dunia kembali memicu kekhawatiran pasar global lantaran menimbulkan risiko kenaikan inflasi.
IDXChannel – Lonjakan harga minyak dunia kembali memicu kekhawatiran pasar global lantaran menimbulkan risiko kenaikan inflasi yang berujung pada arah kebijakan suku bunga global.
Harga minyak sempat menembus level USD100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026), dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan analisis dari CME FedWatch Tool per Senin (9/3/2026) sore, pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan Juni 2026.
Ekspektasi ini berubah dibandingkan sebelum konflik AS-Iran memanas, ketika pasar masih memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Stockbit pada Selasa (10/3/2026) menilai dinamika perang Perang Rusia-Ukraina pada 2022 dapat menjadi acuan (playbook) untuk membaca potensi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah lonjakan harga minyak.
Pada 2022, konflik Rusia-Ukraina mendorong harga minyak dunia melonjak hingga sekitar USD130 per barel pada awal Maret. Meski kemudian mengalami volatilitas, harga minyak secara umum tetap berada di level tinggi selama sekitar empat bulan hingga pertengahan 2022 sebelum akhirnya mulai menurun pada paruh kedua tahun tersebut.
Penurunan harga minyak kala itu dipicu oleh intervensi pasokan dengan pelepasan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve sebesar 180 juta barel.
Lalu terjadi fenomena demand destruction akibat kebijakan moneter ketat. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei 2022 dan melanjutkan pengetatan secara agresif untuk menekan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dalam episode tersebut, harga minyak mencapai puncaknya sekitar 12 hari setelah pengumuman invasi Rusia ke Ukraina.
Sementara itu, IHSG yang sempat menguat di awal lonjakan harga komoditas didukung kenaikan harga batu bara dan CPO akhirnya terkoreksi tajam dari puncaknya menuju titik terendah dalam rentang 15 hari kalender atau lima hari perdagangan bursa.
Adapun sejak pengumuman perang, IHSG tercatat telah mengalami koreksi selama enam hari perdagangan. Mengacu pada pola 2022 tersebut, Stockbit menilai investor perlu mencermati tanda-tanda normalisasi harga minyak sebagai indikator potensi pemulihan pasar saham.
Normalisasi harga minyak berpotensi terjadi apabila terdapat sinyal de-eskalasi konflik maupun intervensi pasokan energi.
Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump menyebut, konflik dengan Iran kemungkinan segera berakhir. Selain itu, negara-negara G7 dilaporkan mulai membahas rencana pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama untuk menstabilkan pasar.
Merespons pernyataan tersebut, harga minyak Brent tercatat turun 7,2 persen pada Selasa (10/3/2026) sore menjadi sekitar USD91,8 per barel. Penurunan harga minyak ini diikuti penguatan IHSG sebesar 1,41 persen pada perdagangan yang sama.
Meski demikian, Stockbit menyebut hubungan antara harga minyak dan IHSG tidak selalu bergerak searah. Pada 2022 misalnya, IHSG sempat pulih pada periode Juli-September bersamaan dengan turunnya harga minyak, namun korelasi keduanya tidak konsisten sepanjang tahun.
Menurut Stockbit, faktor ekspektasi suku bunga global juga memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan IHSG. Jika harga minyak segera ternormalisasi sehingga tidak memicu tekanan inflasi yang berkepanjangan, peluang pemulihan IHSG dinilai masih terbuka.
Sebaliknya, apabila konflik berlanjut tanpa de-eskalasi signifikan dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi, pasar saham domestik berpotensi tetap berada dalam tekanan.
(DESI ANGRIANI)