Momentum Saham Ritel Jelang Ramadan-Lebaran
Sektor ritel dinilai memiliki peluang taktis menjelang periode Lebaran 2026, salah satunya ditopang oleh perbaikan momentum penjualan.
IDXChannel - Sektor ritel dinilai memiliki peluang taktis menjelang periode Lebaran 2026, ditopang oleh perbaikan momentum penjualan serta efek basis yang lebih menguntungkan.
Dalam riset yang terbit pada 27 Januari 2026, Indo Premier mencatat adanya pemulihan bertahap pada kinerja penjualan ritel sejak akhir 2025.
Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel pada kuartal IV-2025 tumbuh 5 persen secara tahunan, membaik dibandingkan kuartal III-2025 yang naik 4 persen.
Indo Premier menyebut, kinerja toko ritel telah kembali normal setelah terdampak aksi demonstrasi pada Agustus 2025, sejalan dengan pemulihan Consumer Confidence Index (CCI).
Memasuki kuartal I 2026, Indo Premier memperkirakan momentum penjualan ritel terus membaik secara kuartalan, didukung sentimen konsumen yang lebih positif.
Dari hasil diskusi dengan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), penjualan toko sejenis atau same store sales growth (SSSG) pada tiga pekan pertama Januari 2026 tercatat positif di kisaran satu digit rendah, berbalik dari kinerja Desember 2025 yang terkontraksi.
Indo Premier juga menyoroti efek basis yang relatif rendah (low base) pada kuartal I-2025. Rata-rata SSSG peritel yang berada dalam cakupan riset hanya 3,6 persen, jauh di bawah rata-rata Lebaran tiga tahun terakhir sebesar 8,1 persen.
Kondisi ini dinilai membuka peluang pertumbuhan SSSG yang lebih kuat pada kuartal I-2026, terutama bagi PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan ACES, yang masing-masing hanya mencatatkan SSSG 0,1 persen dan 2,2 persen pada kuartal I-2025.
Dari sisi biaya, Indo Premier mencermati rasio beban operasional terhadap penjualan pada sembilan bulan 2025 naik menjadi 23,7 persen, seiring lemahnya pertumbuhan penjualan. Namun, tekanan biaya dinilai mulai mereda.
Peritel kini fokus meningkatkan produktivitas gerai melalui efisiensi operasional, seperti pembatasan perekrutan, sentralisasi pengadaan, serta konsolidasi pasar internasional.
Kenaikan upah minimum nasional pada 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 5-7 persen juga dinilai relatif jinak dan sejalan dengan kenaikan 2025. Padahal, biaya gaji menyumbang sekitar 11 persen dari total penjualan bersih peritel.
Indo Premier menghitung, setiap asumsi penurunan pertumbuhan upah sebesar 1 persen berpotensi meningkatkan laba bersih 2026 masing-masing 2,2 persen untuk AMRT, 1,6 persen untuk MAPI, dan 1,2 persen untuk ACES.
Meski demikian, Indo Premier menilai katalis pasca-Lebaran masih terbatas untuk mendorong pemulihan signifikan belanja diskresioner.
Dari sisi valuasi, sektor ritel telah mengalami penurunan valuasi cukup dalam ke 15,5 kali price to earnings (PE) 2026, atau sekitar 1,4 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
Arus kepemilikan investor lokal maupun asing juga telah menyusut sejak awal 2025, yang menurut Indo Premier membatasi potensi penurunan lebih lanjut.
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Indo Premier mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor ritel, dengan urutan preferensi saham MAPI, disusul AMRT, dan ACES. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.