MARKET NEWS

OJK Klaim Reformasi Pasar Modal Mulai Tuai Hasil, Aspek Fundamental Topang Pergerakan Saham

Rohman Wibowo 19/05/2026 14:53 WIB

Meski dihadapkan pada ketidakpastian global, langkah reformasi struktural terbukti ampuh menjadi bantalan dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar.

OJK Klaim Reformasi Pasar Modal Mulai Tuai Hasil, Aspek Fundamental Topang Pergerakan Saham. (Foto iNews Media Group)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, meski dihadapkan pada ketidakpastian global, langkah reformasi struktural yang terus digulirkan terbukti ampuh menjadi bantalan dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dinamika dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini sebagai bentuk penyesuaian harga yang lebih berbasis pada nilai intrinsik perusahaan. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi logis dari serangkaian transformasi yang telah dijalankan oleh regulator guna menyehatkan ekosistem pasar modal.

"Jadi kita melihat pergerakan indeks kami sudah lebih secara fundamental, dan juga sekarang pergerakannya relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI maupun subindeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental di mana pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentimen semata," ujarnya dalam konferensi pers di BEI, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Wanita yang akrab disapa Kiki ini menekankan soal di tengah ramainya sentimen rebalancing indeks MSCI, instrumen investasi dalam negeri dianggap dipenuhi dana segar.

OJK mencatat Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana pada tahun ini meroket tajam dengan tambahan dana mencapai Rp49,71 triliun atau tumbuh sekitar 6,39 persen.

Peningkatan yang ditopang oleh aliran masuk masuk bersih (net subscription) dari kalangan investor ritel ini membawa total akumulasi dana kelolaan secara keseluruhan menembus angka Rp718,44 triliun.

Capaian ini, ujar Kiki, sekaligus menjadi bukti bahwa guncangan dari luar tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menempatkan dananya di instrumen investasi resmi. Momentum pembenahan aturan main di bursa secara nyata telah melahirkan optimisme yang kuat bagi para pelaku pasar.

"Juga berita baiknya adalah bahwa walaupun ada dinamika seperti saat ini, kami melihat perspektif investor meningkat dalam hal confidence untuk masuk ke market yang ditandai dengan penambahan 7 juta investor ritel baru sejak awal tahun (year to date)," kata dia.

"Jadi ini memperlihatkan bahwa reformasi diarahkan untuk memastikan pasar modal Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi market size, tetapi juga kita mengedepankan dari aspek fundamental dan integritas," ujar Kiki.

Selain itu, Kiki juga menilai penurunan IHSG dalam beberapa waktu terakhir dinilai masih dalam batas kewajaran dan sejalan dengan tren pelemahan bursa saham di kawasan regional.

Sebab, kata dia, tekanan pasar saham tak lepas dari imbas dinamika geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah, serta tingginya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter dunia yang masih ketat.

Selain faktor eksternal, sentimen di dalam negeri belakangan ini juga dipengaruhi oleh keputusan penyesuaian bobot atau rebalancing dari indeks MSCI. Pengumuman yang dirilis pada 12 Mei waktu Amerika Serikat atau 13 Mei waktu Indonesia tersebut sempat memicu tekanan lanjutan ketika bursa kembali dibuka usai libur panjang.

Walau begitu, tingkat koreksinya tercatat masih berada di tahap moderat, yakni merosot 1,98 persen pada hari pertama pengumuman MSCI dan turun 1,85 persen pada perdagangan 18 Mei 2026.

(Dhera Arizona)

SHARE