Raksasa Tambang hingga Bank Besar, Ini Deretan Saham yang Dilepas Asing Sepekan
nvestor asing tercatat melepas sejumlah saham unggulan sepanjang sepekan terakhir, mulai dari raksasa tambang hingga bank besar.
IDXChannel – Investor asing tercatat melepas sejumlah saham unggulan sepanjang sepekan terakhir, mulai dari raksasa tambang hingga bank besar, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode yang sama tetap menguat.
Berdasarkan data perdagangan sepekan, saham dengan jual bersih asing (net foreign sell) terbesar ditempati emiten batu bara Grup Bakrie-Salim PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp756,87 miliar.
Selama sepekan, harga saham BUMI justru menguat tipis 0,68 persen ke Rp294 per unit.
Di posisi berikutnya ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilepas Rp725,35 miliar, dengan pergerakan harga naik 0,35 persen selama sepekan menjadi Rp7.225 per unit.
Saham pulp-kertas Grup Sinar Mas Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) juga tercatat net sell asing Rp203,01 miliar dan mengalami koreksi harga 0,51 persen dalam sepekan.
Investor asing juga melepas saham lain seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp138,56 miliar dengan penguatan 3,39 persen, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp120,72 miliar yang tertekan 5,03 persen.
Tekanan jual asing juga terlihat pada saham kontraktor tambang Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp106,14 miliar (-0,81 persen) dan saham farmasi Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp62,64 miliar (-2,31 persen).
Sementara saham energi Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang juga dilepas asing tetap mencatat penguatan 9,49 persen.
IHSG Menguat
Di tengah aksi jual pada sejumlah saham unggulan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis 0,03 persen ke 8.271,77 pada Jumat (20/2/2026). Namun secara mingguan, indeks acuan masih mencatatkan penguatan 0,72 persen.
Secara keseluruhan, investor asing masih membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp221,54 miliar dalam sepekan.
Sentimen Kesepakatan Dagang RI-AS
Sentimen eksternal juga turut mewarnai pasar. Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (19/2/2026) menandatangani kesepakatan perdagangan final antara Indonesia dan AS, sebagai tindak lanjut framework yang telah disepakati pada Juli 2025.
Dalam kesepakatan tersebut, AS menurunkan tarif untuk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
AS juga memberikan tarif 0 persen untuk sejumlah barang ekspor Indonesia, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, karet, gandum, kedelai, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang. Untuk produk tekstil dan pakaian tertentu, tarif 0 persen berlaku lewat mekanisme tariff rate quota (TRQ).
Kesepakatan akan berlaku 90 hari setelah diratifikasi masing-masing legislatif. Indonesia dan AS juga akan membentuk dewan perdagangan dan investasi untuk menangani ketidakseimbangan dalam hubungan dagang bilateral.
Selain itu, perusahaan-perusahaan Indonesia meneken 11 nota kesepahaman senilai USD38,4 miliar (sekitar Rp684,2 triliun).
Kerja sama mencakup pengembangan mineral penting, perpanjangan kerja sama terkait Freeport, pembelian komoditas pertanian seperti jagung dan kapas, sektor furnitur, sampai hilirisasi silika untuk produksi semikonduktor.
Menurut Stockbit Sekuritas, Jumat (20/2/2026), penurunan tarif menjadi 19 persen membuat tarif Indonesia sejajar dengan sejumlah negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina, meski sedikit lebih rendah dibanding Vietnam di level 20 persen.
Kerja sama di bidang semikonduktor khususnya dinilai sebagai babak baru keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok teknologi tinggi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.