Rupiah Sepekan Terkoreksi 0,55 Persen di Tengah Kemungkinan The Fed Tahan Suku Bunga
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan pekan pertama Januari 2026 dengan tren pelemahan.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menutup perdagangan pekan pertama Januari 2026 dengan tren pelemahan. Berdasarkan data pasar spot pada Jumat (9/1/2026), mata uang Garuda parkir di level Rp16.819 per USD atau terkoreksi 0,13 persen.
Jika diakumulasikan selama sepekan, rupiah tercatat melemah sebesar 0,55 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di level Rp16.725 per USD.
Kondisi serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang melemah 0,20 persen ke posisi Rp16.834 per USD.
Bank Indonesia (BI) menilai, pergerakan nilai tukar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global yang ditandai dengan penguatan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama (DXY) ke posisi 98,93.
Di sisi lain, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dalam negeri justru merangkak naik, yang mengindikasikan adanya tekanan di pasar obligasi.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan rincian pergerakan tersebut berdasarkan data harian per Kamis dan Jumat pekan ini.
“Pada saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,05 persen," kata Ramdan, Sabtu (10/1/2026).
Memasuki hari terakhir perdagangan pekan ini, tekanan terhadap rupiah belum mereda. Kenaikan biaya pinjam pemerintah (yield) terus berlanjut seiring dengan melemahnya nilai tukar saat pembukaan pasar.
“Memasuki perdagangan pagi hari Jumat (9/1/2026), rupiah dibuka melemah di level Rp 16.815 per USD, diiringi kenaikan yield SBN 10 tahun ke level 6,15 persen,” kata Ramdan.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah dolar AS yang akan menjadi tujuan dana global, di tengah kuatnya kemungkinan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya usai rilis data tenaga kerja.
Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat, tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen pada Desember dibandingkan 4,5 persen pada November 2025.
Penurunan ini terjadi meski jumlah lapangan kerja yang bertambah hanya 50.000, lebih rendah dari proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 60.000.
Data pasar tenaga kerja terbaru ini dinilai akan memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pinjaman jangka pendek di level saat ini, sejalan dengan sinyal Powell bulan lalu, bahwa para pembuat kebijakan cenderung bersikap menahan diri dalam waktu dekat.
(NIA DEVIYANA)