News

54 Juta Jiwa Belum Dapat PBI Jaminan Kesehatan, Mensos: 15 Juta yang Mampu Justru Menerima

Achmad Al Fiqri 09/02/2026 11:30 WIB

Mensos ada 54 juta jiwa yang masuk dalam kategori Desil 1 hingga Desil 5 belum menerima Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).

54 Juta Jiwa Belum Dapat PBI Jaminan Kesehatan, Mensos: 15 Juta yang Mampu Justru Menerima. (Foto: Achmad Al Fiqri/iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengungkapkan, ada 54 juta jiwa yang masuk dalam kategori Desil 1 hingga Desil 5 belum menerima Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).

Sementara itu, ada 15 juta jiwa yang masuk kategori Desil 6-10 justru menerima PBI JK.

Desil 1-5 merupakan pembagian kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Desil 1-5 dikategorikan warga sangat miskin hingga menengah, sementara Desil 6-10 warga kelas menengah hingga menengah ke atas.

"Desil 1 sampai 5 yang belum menerima PBI cukup besar, yaitu sebesar 54 juta jiwa lebih," ungkap Gus Ipul saat Rapat Konsultasi bersama pimpinan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026). 

Sementara itu, ia mengakui ada belasan juta di Desil 6-10 atau non desil justru menerima PBI JK. "Sementara Desil 6 sampai 10 dan Non-Desil, nanti mohon ini BPS bisa menjelaskan lebih rinci, mencapai 15 juta lebih.”

“Itu yang sebelah kanan bisa dilihat, itu di mana yang lebih mampu terlindungi, yang lebih rentan justru menunggu. Ini adalah data yang kita peroleh pada 2025," tambahnya.

Kendati demikian, Gus Ipul akui data di dalam desil ini masih belum sempurna. Baginya, perlu pemutakhiran data yang lebih komprehensif lagi.

"Karena di 2025 itu kami hanya mampu meng-ground check 12 juta KK lebih. Padahal seharusnya lebih dari 35 juta KK,” kata dia.

Kemensos pun bekerja sama dengan daerah untuk melakukan verifikasi dan validasi cepat. Meski begitu, upaya tersebut masih belum cukup untuk memastikan data penerima bantuan akurat.

“Tetapi saya rasa itu masih belum cukup, dan seharusnya harus ada lagi suatu upaya yang lebih nyata sehingga data kita makin tahun makin akurat," tuturnya.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE