Pertumbuhan dana masyarakat yang terhimpun turut memperkuat kapasitas likuiditas perseroan dalam menopang bisnis utama. Kondisi ini berbanding lurus dengan efisiensi biaya operasional dan perbaikan efektivitas pengelolaan risiko kredit.
"Laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP konsolidasian tercatat sebesar Rp5,9 triliun, tumbuh 13 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dan didukung perbaikan kualitas kredit yang tercermin pada penurunan biaya kredit atau Cost of Credit sebesar 12 persen YoY, serta NIM konsolidasian sebesar 8,1 persen," urai Theresia.
Seiring dengan peningkatan margin dan laba, Theresia mengatakan perseroan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian demi menjaga portofolio aset yang sehat. Hal ini sejalan dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang membaik 263 basis poin menjadi 7,8 persen, serta rasio NPL Bruto yang turun 33 basis poin menjadi 1,7 persen.
Dalam hal mitigasi risiko, perseroan mempertebal rasio cakupan NPL (NPL Coverage Ratio) di level 282,4 persen dan rasio cakupan LAR (LAR Coverage) yang melonjak 795 basis poin YoY hingga mencapai 59,9 persen.
Penerapan manajemen risiko memungkinkan perseroan mempertahankan rasio aset bermasalah pada tingkat yang aman. Langkah ini dinilai menjadi fondasi penting bagi stabilitas usaha bank dalam jangka panjang.