Waasi menekankan bahwa hal ini membuktikan efektivitas layanan digital dalam menjawab tantangan geografis dan latar belakang masyarakat.
“Bayangin kalau misalkan bank Jago masih mengandalkan cabang, walaupun literasi keuangan Syariahnya sudah bagus, 30-40 persen, bagaimana caranya Jago bisa menaikkan inklusi?” ujarnya.
Ke depan, Bank Jago Syariah fokus mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat (use case syariah). Salah satu langkah strategisnya adalah optimalisasi status Jago Syariah sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH).
“Sekarang bagaimana caranya nih Jago Syariah memanfaatkan izin atau blessing dari BPKH terkait dengan menerima pembayaran ibadah haji. Jadi mengembangkan solusi yang tepat guna berbasis digital juga seperti itu,” kata Waasi.
(NIA DEVIYANA)