“Biasanya kami menerima informasi dari data, paparan, atau materi yang sudah disiapkan. Di sini kami bisa melihat langsung prosesnya, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan ikut menanam dan memanen. Pengalaman seperti ini memberi konteks yang lebih kuat bagi kami sebagai jurnalis karena kami dapat memahami bagaimana urban farming dijalankan dan manfaatnya dirasakan oleh warga,” ujarnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa BRInita merupakan salah satu bentuk implementasi TJSL BRI Peduli yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan lahan perkotaan. Terlebih, melalui rangkaian Fellowship Journalism Menanam, para jurnalis juga diajak melihat langsung bagaimana program tersebut dijalankan bersama masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat langsung bagaimana masyarakat terlibat sejak proses menanam hingga panen. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga, mendukung kegiatan sosial, maupun memberikan tambahan nilai ekonomi bagi warga,” ujar Dhanny.
Ia menambahkan, pengelolaan BRInita juga diarahkan untuk memberi manfaat lingkungan melalui penambahan ruang hijau dan pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk serta eco enzyme. Pengembangan urban farming ini sekaligus mendukung ketahanan pangan, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam mendorong swasembada pangan dan ekonomi hijau, serta turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait ketahanan pangan, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Sebagai informasi, sejak dijalankan pada 2021, Program BRInita telah berkembang di 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office dan 16 provinsi. Sepanjang 2021–2026, program BRInita ini telah menjangkau 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung. Dari sisi produksi, BRInita menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah, serta 4,7 ton hasil perikanan.