sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BRI Sebut Fundamental Industri Perbankan Solid, Akselerasi Kredit Butuh Penguatan Permintaan

Banking editor Rahmat Fiansyah
20/02/2026 09:34 WIB
Industri perbankan dinilai masih memiliki ruang yang kuat untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang memadai.
Industri perbankan dinilai masih memiliki ruang yang kuat untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan. (Foto: Ist)
Industri perbankan dinilai masih memiliki ruang yang kuat untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan. (Foto: Ist)

IDXChannel - Industri perbankan nasional dinilai masih memiliki ruang yang kuat untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang memadai. Kendati demikian, akselerasi penyaluran kredit saat ini menghadapi tantangan, terutama dari sisi permintaan (demand) seiring sikap wait and see dunia usaha serta daya beli yang belum sepenuhnya pulih di seluruh segmen.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI), Hery Gunardi dalam acara Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamis (19/2/2026). Acara tersebut turut dihadiri oleh Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, serta Chief Executive Officer (CEO) Standard Chartered, Donny Donosepoetro.

Dalam pemaparannya, Hery menjelaskan, secara fundamental, industri perbankan memiliki ruang yang memadai untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan secara prudent dan berkelanjutan.

Dari sisi likuiditas, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) menguat hingga 11,4 persen, dengan rasio Loan-to-Deposit Ratio (LDR) yang terjaga di kisaran 84 persen. Permodalan industri juga tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 26 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan minimum regulator.

“Namun demikian, pertumbuhan kredit secara year-on-year hingga Desember 2025 masih berada pada level single digit. Menurut Bank Indonesia, salah satu faktor terjadinya perlambatan kredit saat ini adalah dipengaruhi faktor demand (permintaan),” kata Hery.
 
Data Bank Indonesia (BI) mencatat, permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen, terutama pada kredit konsumsi yang turun dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen, serta segmen UMKM yang semula 78,4 persen menjadi 58,8 persen. Sedangkan, undisbursed loan pun meningkat secara rata-rata menjadi 10,22 persen. 

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement