"Jadi, mengalahkan bank konvensional yang lainnya. Itu impiannya. Kenapa? Kan memang potensinya besar. Bukan berarti kami hanya mengedepankan unsur religinya, tetapi dengan prinsip-prinsip syariah yang kami bangun, yang kami jaga, adil dan transparan, dan utamanya kami bicara mengenai amanah, kemaslahatan umat, harusnya prinsip syariah ini kan bisa diterima untuk masyarakat Indonesia," tutur Anggoro.
Pada level global, BSI berambisi masuk jajaran bank teratas dunia. Masih berbekal produk unggulan syariah, Anggoro ingin kapitalisasi pasar korporasi tak kalah dengan bank syariah negara lain.
"Kami sekarang ada di top 10 global islamic bank. Di tahun 2030 kami menuju top 5 global," kata dia.
Untuk mencapai target menjadi pemain besar, Anggoro menekankan perlu mental kuat. Dia menilai strategis korporasi tak cuma soal membuat produk terbaik dan memasarkannya, tapi lebih dari itu.
"Butuh nyali untuk nyala. BSI harus menyala. Harus bisa menerangi, harus bisa memastikan semakin besar, tapi itu butuh nyali. Karena sebagai pendatang baru, berkompetisi dengan bank-bank yang sudah lebih dulu, lebih besar, biasanya bukan soal kompetensi yang, yang menjadi concern, tapi kepercayaan diri," kata Anggoro.
(Febrina Ratna Iskana)