Rencana perbaikan harga saham ini sejalan dengan pandangan dari pihak induk pengelola investasi negara. Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai aksi buyback merupakan instrumen keuangan yang sangat lumrah dan sehat untuk dieksekusi, terutama saat harga saham di papan perdagangan melorot jauh di bawah nilai fundamental aslinya.
Dony menegaskan, dibanding jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menempatkan kelebihan likuiditas mereka pada instrumen luar yang spekulatif, penguatan modal ke dalam internal korporasi jauh lebih menjanjikan.
“Buyback itu sebenarnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu bisa menjadi pilihan. Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat,” kata Dony.
Menurut analisis Danantara, klaster portofolio BUMN saat ini mulai dari sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga lini bisnis penunjang lainnya, memiliki fondasi operasional yang sangat tebal untuk terus mencetak pertumbuhan laba bagi para investor.
Di samping mematangkan rencana buyback, BTN bergerak agresif memperkuat mesin pertumbuhan bisnis organik dan anorganik. Langkah nyata dibuktikan lewat eksekusi akuisisi porsi portofolio kredit milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk (sebelumnya Bank BTPN) dengan estimasi total nilai transaksi mencapai Rp19,92 triliun.