"Kita harus lihat bahwa Thomas Djiwandono adalah seorang profesional, jangan melihat dari partai yang mengusung, ini adalah jabatan independen untuk bergabung menjadi Deputi. Kenapa Thomas Djiwandono dimasukkan di Deputi Gubernur Bank Indonesia? Adalah untuk memperkuat, memperkuat fondasi moneter di Bank Indonesia," kata Ibrahim.
Ibrahim juga membedakan kondisi di Indonesia dengan Amerika Serikat (AS), di mana dia mencatat posisi yang diajukan adalah level Deputi, bukan Gubernur bank sentral secara langsung. Sehingga, prosesnya tetap berada dalam koridor penguatan institusi.
Mengenai kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini tertekan dan hampir menyentuh level Rp17.000 per USD, Ibrahim menyampaikan hal tersebut murni disebabkan oleh komplikasi faktor eksternal dan internal, bukan akibat isu pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI.
Secara eksternal, tekanan datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Greenland, perang dagang antara Uni Eropa dan China, hingga kebijakan tarif impor Presiden Trump yang mencapai 25 persen. Selain itu, ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed yang diprediksi tetap tinggi (higher for longer) menjadi faktor utama pelemahan mata uang global, termasuk rupiah.