IDXChannel - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan kondisi fiskal Indonesia siap merespons gejolak global, termasuk konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran.
Juda merujuk pada postur APBN dan sejumlah indikator makro perekonomian nasional yang dianggap masih mampu resiliensi.
"APBN kita itu memang didesain dengan prinsip prudent, fleksibel. Kami memastikan bahwa defisit di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen. Fleksibel, artinya termasuk kalau terjadi shock-shock yang bersumber dari global," ujar Juda dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Meski demikian, Juda menitikberatkan inflasi akibat harga minyak yang berpotensi naik karena Iran memblokade Selat Hormuz. Selain itu, dampak terhadap nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar AS, juga tak akan terelakkan.
Dengan begitu, dia memproyeksi ada tekanan pada ruang fiskal nasional.
"Satu dolar kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) itu menyebabkan kenaikan defisit Rp6,8 triliun. Kemudian kenaikan Rp100 rupiah per USD, pelemahan nilai tukar, itu dampaknya sekitar Rp0,8 triliun, dan kepada yield juga akan menambah sekitar Rp1,9 triliun (ketika naik 0,1 persen), budget defisit," urai Juda.