Juda menekankan prediksi konflik yang terjadi semestinya digambarkan sampai skenario terburuk. Tapi, pemerintah telah memetakan risiko-risiko secara fiskal maupun moneter dalam tataran di permukaan atau masuk akal untuk dipertimbangkan sebagai landasan mengambil kebijakan ekonomi.
"Katakanlah misalnya harga minyak di atas USD100, USD150 dan sebagainya, tentu saja ini fiskalnya tentu akan berdampak. Tapi, kami melihat foreseeable future. Dalam horizon misalnya katakanlah naik sampai USD75 per barel pun, itu di dalam skenario kami masih di dalam range APBN," kata Huda.
Menyiasati kondisi fiskal, Juda mengatakan kini sumber pembiayaan yang dipakai juga menambal defisit APBN tidak terlampau bergantung pada AS. Obligasi global terkini diterbitkan dalam mata uang Euro dan Renminbi.
"Kami lakukan berbagai upaya agar daya tahan fiskal terhadap gejolak-gejolak itu juga dapat terjaga dengan baik. Termasuk diversifikasi dari pembiayaannya. Kemenkeu baru saja menerbitkan Global Bonds sejumlah 4,5 miliar ekuivalen dolar AS tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi," kata Huda.
(Febrina Ratna Iskana)