"Pelemahan mata uang rupiah itu bukan semata-mata karena Thomas Djiwandono mencalonkan diri sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, tetapi memang karena permasalahan yang sudah komplikasi, kontraksi baik secara eksternal maupun internal. Masalah Thomas Djiwandono masuk ke calon jajaran Bank Indonesia ini pun juga hanya sedikit saja persentasenya tidak terlalu besar. Karena sebelum-sebelumnya rupiah ini terus mengalami pelemahan," kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti pelebaran defisit neraca perdagangan hingga 3 persen dan penurunan pendapatan pajak sebagai beban nyata bagi rupiah saat ini. Dia menegaskan, tren pelemahan ini sudah terjadi sejak awal 2025 dan pelantikan Trump, jauh sebelum isu pencalonan Thomas mencuat.
Dengan hadirnya figur muda yang profesional seperti Thomas di BI, kata Ibrahim, diharapkan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan lebih efektif untuk menghadapi badai ekonomi global yang tengah memanas.
(Dhera Arizona)