Porsi tersebut menunjukkan bahwa kredit modal kerja menjadi bagian penting dalam penyaluran kredit BWS.
Pembiayaan jenis ini umumnya digunakan nasabah untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha, mulai dari kebutuhan kas, pembelian bahan baku, hingga pembiayaan piutang dan aktivitas bisnis sehari-hari.
Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menilai karakter kredit modal kerja yang memiliki siklus relatif lebih pendek dibandingkan dengan kredit investasi memberikan ruang bagi perbankan untuk lebih aktif mengelola portofolio pembiayaan sesuai dengan perkembangan kondisi usaha nasabah.
“Porsi kredit modal kerja yang besar dapat menjadi sumber pendapatan bunga yang relatif berulang karena kebutuhan pembiayaan operasional perusahaan terus berputar. Bagi bank, tenor yang relatif lebih pendek juga memberikan fleksibilitas untuk melakukan repricing maupun menyesuaikan ekspansi kredit dengan kondisi likuiditas dan risiko,” kata Leo.
Kinerja intermediasi tersebut berlangsung seiring dengan perbaikan profitabilitas BWS. Sepanjang enam bulan pertama 2026, perseroan membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp789,78 miliar.