sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kredit Nganggur Capai Rp2.506,47 Triliun, BI Dorong Perbankan Turunkan Bunga Lebih Cepat

Banking editor Nia Deviyana
01/03/2026 22:30 WIB
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ketahanan perbankan dan industri keuangan terjaga, dengan likuiditas yang memadai dan ruang penyaluran kredit masih terbuka.
Kredit Nganggur Capai Rp2.506,47 Triliun, BI Dorong Perbankan Turunkan Bunga Lebih Cepat. Foto: iNews Media Group.
Kredit Nganggur Capai Rp2.506,47 Triliun, BI Dorong Perbankan Turunkan Bunga Lebih Cepat. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ketahanan perbankan dan industri keuangan terjaga, dengan likuiditas yang memadai dan ruang penyaluran kredit masih terbuka.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mencatat pada Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat sebesar Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia. Dia berharap penyaluran kredit dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi 

"Bank Indonesia mengimbau perbankan untuk terus menyesuaikan special rate guna mendorong penurunan suku bunga kredit yang lebih cepat, sehingga intermediasi berjalan semakin kuat. Ke depan, intermediasi pada 2026 diprakirakan tetap solid dalam kisaran 8–12 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan kredit Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen (yoy)," kata Destry dalam peluncuran buku Kajian Stabilitias Keuangan No. 46, Februari 2026 (KSK 26), dikutip Minggu (1/3/2026)

Destry menekankan pentingnya sinergi antarotoritas dalam memperkuat kontribusi sistem keuangan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, Bank Indonesia telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking) guna memastikan kecukupan likuiditas dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas Pemerintah.

Hingga minggu pertama Februari 2026, perbankan telah memperoleh insentif sebesar Rp427,5 triliun.

Destry juga menekankan perlunya sinergi antarlembaga dalam mendorong pertumbuhan kredit dan mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan, sehingga transmisi kebijakan dapat berjalan lebih efektif dan roda perekonomian bergerak lebih cepat. 

Bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk penguatan KLM berorientasi ke depan, diarahkan untuk menyediakan kecukupan likuiditas serta mengakselerasi penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas. 

"Sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dalam kerangka KSSK menjadi kunci untuk membangun optimisme dan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement