sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Makin Banyak Petinggi The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Imbas Perang Iran

Banking editor Wahyu Dwi Anggoro
09/04/2026 17:37 WIB
Jumlah pembuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini dilaporkan meningkat.
Makin Banyak Petinggi The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Imbas Perang Iran. (Foto: AP)
Makin Banyak Petinggi The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Imbas Perang Iran. (Foto: AP)

IDXChannel - Jumlah pembuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini dilaporkan meningkat.

Dilansir dari AP pada Kamis (9/4/2026), harga bensin yang lebih tinggi akibat perang di Iran berpotensi memperburuk inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

Risalah pertemuan The Fed terbaru, yang diadakan bulan lalu, menyebutkan bahwa sejumlah (some) pembuat kebijakan membuka peluang kenaikan suku bunga. 

Risalah pertemuan sebelumnya, yang digelar pada Januari, menyebutkan bahwa ada beberapa (several) pembuat kebijakan yang saat itu mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Risalah The Fed tidak mengungkapkan angka pasti berapa banyak pejabat yang mendukung sebuah posisi. Namun, diksi "some" biasanya mengindikasikan angka yang lebih banyak daripada "several".

The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di sekitar 3,6 persen dalam dua pertemuan pertamanya tahun ini, setelah menurunkannya tiga kali pada akhir 2025.

Risalah rapat tersebut, yang dirilis tiga minggu setelah pertemuan, menggarisbawahi dilema The Fed dalam upayanya untuk memenuhi dua mandatnya, yakni mewujudkan inflasi rendah dan lapangan kerja maksimal.  

Menurut risalah rapat, para pejabat The Fed mengakui bahwa konflik Iran dapat memaksa rumah tangga untuk mengurangi pengeluaran guna mengimbangi kenaikan harga bensin. Hal itu dapat memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan pengangguran.

Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi, atau menurunkannya untuk meningkatkan pertumbuhan dan lapangan kerja. 

Pada Jumat besok, tanda-tanda pertama dampak lonjakan harga bensin terhadap inflasi akan muncul, karena pemerintah dijadwalkan untuk merilis laporan inflasi Maret. 

Para ekonom memperkirakan data itu akan menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 0,9 persen pada Maret dibandingkan Februari, dengan harga-harha naik 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. The Fed selama ini menargetkan tingkat inflasi tahunan 2,0 persen. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement