IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) merupakan langkah yang dipilih bank sentral untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. BI menilai, kenaikan BI Rate penting untuk meredam keluarnya modal (capital outflow) dari dalam negeri.
Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti menjelaskan, volatilitas kurs rupiah terjadi di tengah dua arus yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menembus 123 poin pada April 2026.
Di sisi lain, faktor eksternal menekan ekonomi domestik, bahkan cenderung dominan dalam mendikte pergerakan rupiah. Sejumlah faktor mulai dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak inflasi hingga ekspektasi pengetatan moneter dari bank sentral AS, The Federal Reserve membuat greenback kembali perkasa.
“Jadi ini sebenarnya menandakan bahwa fundamental kita masih oke. Kemudian juga kita lihat dari index consumer confidence itu juga mengalami peningkatan,” ujar Destry dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Situasi tersebut, kata Destry, semakin menantang karena secara siklikal, permintaan valas pada pertengahan tahun meningkat. Kebutuhan korporasi untuk pembayaran dividen ke luar negeri hingga kebutuhan likuiditas untuk musim haji menjadi pemicu pengetatan pasokan dolar AS di pasar spot.