sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah

Economics editor Anggie Ariesta
25/05/2026 16:53 WIB
Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) merupakan langkah yang dipilih bank sentral untuk menjaga stabilitas.
BI menegaskan keputusan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) merupakan langkah yang dipilih bank sentral untuk menjaga stabilitas. (Foto: iNews Media Group)
BI menegaskan keputusan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) merupakan langkah yang dipilih bank sentral untuk menjaga stabilitas. (Foto: iNews Media Group)

“Jadi memang ada kebutuhan dolar yang sangat tinggi. Sehingga kembali lagi antara supply dan demand. Saat ini memang demand (dolar AS) sedang tinggi,” ujar Destry.

Merespons ketidakseimbangan pasokan dan permintaan tersebut, bank sentral menilai insentif imbal hasil instrumen rupiah harus ditingkatkan secara agresif. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi daya pikat utama untuk memancing kembalinya aliran modal asing (capital inflow) ke dalam ekosistem keuangan nasional.

“BI mengerek suku bunga karena kita merasa masih kurang (menarik). Jadi ini harus kita dorong dengan menaikkan suku bunga karena kita harus membuat instrumen rupiah kita menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow kembali masuk paling tidak ke pasar keuangan kita dulu,” kata Destry.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19–20 Mei 2026, BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen. Langkah pengetatan ini diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen serta suku bunga Lending Facility yang ikut terkerek ke posisi 6,00 persen.

Destry optimistis bauran kebijakan ini ampuh memulihkan tingkat kepercayaan pasar. Di tengah tingginya tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS, dan inflasi meningkat di AS yang berdampak pada penguatan dolar AS, BI memilih untuk memprioritaskan stabilitas ketimbang memacu pertumbuhan jangka pendek.

“Jadi kita menghadapi situasi di mana stabilitas itu menjadi penting,” pungkas Destry.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement