sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pekan Pendek Perdagangan Minggu Ini Dibayangi Beragam Sentimen, Apa Saja?

Market news editor Nia Deviyana
25/05/2026 06:13 WIB
Berita terkait perang di Timur Tengah dan kemajuan dalam pemulihan ekspor energi dari kawasan tersebut akan terus menjadi penentu arah pasar global.
Pekan Pendek Perdagangan Minggu Ini Dibayangi Beragam Sentimen, Apa Saja? Foto: Pixabay.
Pekan Pendek Perdagangan Minggu Ini Dibayangi Beragam Sentimen, Apa Saja? Foto: Pixabay.

IDXChannel - Sejumlah sentimen mewarnai pasar keuangan global maupun domestik di tengah pekan pendek perdagangan. Berita terkait perang di Timur Tengah dan kemajuan dalam pemulihan ekspor energi dari kawasan tersebut akan terus menjadi penentu arah pasar global.

Di Amerika Serikat (AS), pekan pendek dengan adanya adanya libur Memorial Day tak membuat pasar tenang. Kalender ekonomi AS akan diisi sejumlah rilis penting. Data pendapatan dan pengeluaran pribadi April, indeks harga PCE, pesanan barang tahan lama, serta estimasi kedua PDB kuartal I akan menjadi sorotan utama.

Perhatian investor juga akan tertuju pada serangkaian pernyataan pejabat The Fed untuk mengukur arah kebijakan bank sentral. 

Data sektor perumahan juga menjadi fokus, termasuk indeks Case-Shiller dan penjualan rumah baru April, yang diperkirakan turun menjadi 670.000 setelah dua bulan berturut-turut mengalami kenaikan.

Rilis tambahan mencakup neraca perdagangan barang tahap awal dan persediaan grosir, serta indeks aktivitas regional seperti Chicago Fed National Activity Index, Dallas Fed Manufacturing Index, dan Chicago PMI.

Di China, investor akan fokus pada data laba industri April untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan menghadapi kenaikan biaya energi akibat konflik di Timur Tengah.

Dari dalam negeri, sentimen rupiah diperkirakan masih membayangi pasar yang juga berada pada pekan pendek karena Libur Iduladha dan cuti bersama yang jatuh pada 27-28 Mei 2025.

Nilai tukar rupiah diproyeksi masih akan tertahan di kisaran level Rp17.000 per USD dalam jangka pendek. Ketidakpastian sentimen, baik yang bersumber dari dinamika global maupun gejolak domestik menjadi faktor penahan apresiasi mata uang Garuda untuk kembali ke level normalnya.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan dalam situasi pasar yang penuh tekanan seperti saat ini, otoritas moneter dan pemerintah perlu bekerja ekstra keras demi menjaga psikologis pasar. Dia berharap pergerakan kurs setidaknya dapat ditekan agar tidak melampaui ambang batas psikologis baru di level Rp17.500.

"Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa rupiah masih di level Rp17.000-an, hopefully masih di bawah Rp17.500 per USD. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi," kata Josua dalam acara pelatihan wartawan di Makassar, dikutip Senin (25/5/2026).

Pengumuman FTSE Russel pada 23 Mei lalu juga diperkirakan memberikan dampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini. 

Sebelumnya, lembaga indeks global FTSE Russell mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dalam hasil June 2026 Quarterly Review yang diumumkan Sabtu (23/5/2026). 

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement