IDXChannel - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Biro Kredit menilai penyaluran kredit ke level Small Medium Enterprise (SME) atau sektor UMKM bisa dimaksimalkan apabila ada penilaian catatan keuangan termasuk skor kredit yang bersifat komprehensif, alih-alih hanya berkutat SLIK OJK dan riwayat pembayaran tagihan telekomunikasi.
Direktur Utama Pefindo, Glant Saputrahadi menekankan selama ini kinerja kredit dari lembaga jasa keuangan ke sektor UMKM, terutama perbankan masih tergolong selektif lantaran terhambat penilaian skor kredit. Sehingga akselerasi kredit didapati dalam angka minim jika dibandingkan kredit UMKM dari pinjaman daring.
Padahal, kata Glant, masih ada data penunjang lainnya mulai dari transaksi pembayaran via digital, data penghasilan yang terverifikasi di BJPS Ketenagakerjaan, bahkan hingga riwayat transaksi antara pelaku UMKM dengan supplier atau distributor, yang biasanya bersifat tunai.
"Makanya (penilaian skor kredit) SME itu salah satu ya mungkin pandora box yang harus kita crack. Pembukaan data SLIk OJK tidak cukup. Data alternatif sudah mesti dibuka juga. Khususnya data-data transaksi di QRIS karena mereka transaksi sekarang banyak pakai QRIS," ujar Glant dalam media briefing di kantor Pefindo, Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Glant menitikberatkan penilaian skor kredit mesti dilihat secara objektif. Sebab, parameter penilaian konvensional dikhawatirkan hanya dapat menekan penyaluran kredit, terlebih di sektor UMKM.