Haryanto menilai peningkatan jumlah investor merupakan tren positif. Menurut dia, kebiasaan berinvestasi perlu mulai dibangun sejak usia muda agar dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan masyarakat dalam jangka panjang sekaligus menghindari kemungkinan menjadi korban ivestasi bodong.
"Jadi mereka bisa paham, ini loh berbagai tipe investasi yang ada di dunia saat ini. Dan kita juga ingin nasabah semakin peka dan semakin hati-hati terhadap investasi bodong, yang menjanjikan return yang tidak masuk akal, ujung-ujungnya nasabah juga yang dirugikan," tutur dia.
Di sisi lain, pertumbuhan investasi tercermin dari peningkatan aset kelolaan atau asset under management (AUM) BCA. Haryanto mengatakan AUM BCA meningkat dari Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun per Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Haryanto, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap BCA sebagai institusi keuangan, tidak hanya untuk menyimpan dana melalui rekening giro, tabungan, dan deposito, tetapi juga untuk kebutuhan investasi.
"Menunjukkan bahwa kita ini dipercaya sebagai institusi keuangan. Nasabah bisa menempatkan dananya di kita dalam bentuk checking account, savings account, deposito, tapi juga dalam berinvestasi," kata dia.