Aviliani turut memberikan catatan kritis mengenai ketatnya selisih (spread) antara BI Rate dengan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Funds Rate (FFR) yang saat ini berada di kisaran 3,5-3,75 persen. Menurut dia, spread yang terlalu sempit menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga modal asing.
Dia menguraikan bahwa formulasi penentuan BI-Rate saat ini tengah menghadapi dilema klasik antara menjaga stabilitas nilai tukar dengan memelihara momentum pertumbuhan ekonomi makro. Situasi ini kian kompleks lantaran kenaikan BI-Rate selama ini langsung diikuti oleh lonjakan imbal hasil (yield) instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ke level yang cukup tinggi.
Kondisi likuiditas di pasar juga diproyeksikan akan mengalami pergeseran menyusul adanya rencana penarikan dana milik pemerintah dari sistem perbankan. Menurutnya, dinamika internal tersebut secara otomatis akan ikut memacu kenaikan suku bunga simpanan di pasar, terlepas dari apapun keputusan yang diambil oleh BI hari ini.
"Antara naik dengan enggak naik tuh masih melihat efek, karena ini kan kita lihat dana pemerintah kan mau ditarik. Kalau dana pemerintah kan mau ditarik otomatis BI enggak naik pun juga bunga dana naik," katanya.
(Rahmat Fiansyah)