IDXChannel – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah optimistis ekonomi syariah bisa terus berkembang pesat di tengah dinamika yang terjadi.
Pondok pesantren jadi salah satu titik episentrum pengembangan ekonomi syariah ini. Pesantren tak hanya jadi pusat pendidikan dan dakwah namun juga pusat pemberdayaan ekonomi umat.
“Indonesia populasi Muslim terbesar di dunia, ini jadi keniscayaan pondok pesantren bisa jadi episentrum (perkembangan ekonomi syariah),” ujar Kepala BI Jateng M. Noor Nugroho saat launching acara Olimpiade Aksi dan Syiar Ekonomi Syariah (OASE) 2026 di Ponpes Fadhul Fadhlan, Mijen, Kota Semarang, Selasa (28/7/2026).
Dia menambahkan, di Jawa Tengah terdata ada sekira 5.441 ponpes. Jumlah itu belum final. Jika ditambahkan dengan ponpes yang belum mengurus izin, jumlahnya bisa lebih dari 10.000 lembaga.
Dengan jumlah itu, jika didorong dan difasilitasi dengan baik maka ekonomi syariah berbasis ponpes, sebut Noor Nugroho, akan tumbuh pesat. Ini akan jadi penopang kuat pertumbuhan perekonomian, selain ekonomi konvensional.
“Jadi BI tidak hanya (dorong) konvensional, tetapi juga kembangkan dan dukung ekonomi syariah,” kata.
Kegiatan di Ponpes Fadhul Fadhlan itu bukan kali pertama dilakukan, pada tahun sebelumnya juga telah digelar, bekerjasama dengan berbagai pihak terkait, termasuk BI Jateng.
“Ponpes adalah tempat yang tepat dan strategis untuk pengembangan ekonomi syariah,” kata Pendiri dan Pengasuh Ponpes Fadhlul Fadhlan K.H. Fadlolan Musyaffa di lokasi acara.
Dia menyebut, santri di ponpes yang diasuhnya jumlahnya lebih dari 1000 orang. Secara bertahap, ponpes mengembangkan kemandirian ekonomi lewat kerjasama dengan berbagai pihak.
Kemandirian ekonomi yang dikembangkan, dikelola para santri itu, khususnya untuk pemenuhan bahan pangan, termasuk sayuran seperti cabai.
Kebutuhan akan bahan pokok untuk pangan memang jadi salah satu pengeluaran terbesar di pondok pesantren. Sebab itu, ketika sektor ini bisa dipenuhi secara mandiri, maka operasional ponpes bisa maksimal terbantu.
“Ponpes ini seperti miniatur negara, santri-santri di sini berasal dari berbagai wilayah, ada dari Papua, Sumatera juga ada, Jawa terbanyak. Mereka mampu hidup bareng dengan kultur yang ada. Santri di sini kalau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi di Mesir, untuk yang mampu (punya biaya), juga perguruan tinggi di dalam negeri,” kata dia.
OASE 2026 sendiri digelar 28-30 Juli 2026. Kegiatan itu sebagai rebranding Festival Santri Jawa Tengah (Fitrah). Oase hadir sebagai wadah kolaborasi yang tidak hanya mempertemukan santri, namun juga pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, pelaku usaha dan masyarakat untuk mengakselerasi pengembangan ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Kegiatannya, selain bermitra dengan BI Jateng juga dengan Kantor Wilayah Kemenag Jateng, Dinas Pendidikan Jateng hingga mitra kerja terkait seperti Komite Ekonomi Daerah Ekonomi Syariah (KDEKS) Jateng, Himpunan Bisnis dan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) Jateng.
Selama 3 hari kegiatan, di sana dihadirkan 6 kompetisi, mulai dari Seni Budaya Islam (hadroh), literasi dan dakwah ekonomi syariah, penguatan filantropi Islam (ZISWAF unggulan), pengembangan industri halal hingga kreativitas digital melalui pembuatan konten ekonomi syariah.
Di sana juga ada pameran produk-produk, mulai dari makanan, minuman hingga kerajinan bikinan santri. Workshop kemandirian pesantren juga digelar, terutama untuk sektor pertanian organik terintegrasi hingga booth literasi.
(kunthi fahmar sandy)
Advertisement
BI Optimistis Ponpes Jadi Episentrum Pengembangan Ekonomi Syariah
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah optimistis ekonomi syariah bisa terus berkembang pesat di tengah dinamika yang terjadi.
BI Optimistis Ponpes Jadi Episentrum Pengembangan Ekonomi Syaria (FOTO:Dok Ist)
Follow Saluran Whatsapp IDX Channel untuk Update Berita Ekonomi
Follow
Advertisement
Advertisement