"Saya kira ini juga momen yang baik, kira-kira gitu. Karena sebagian orang kan concern dengan masalah fluktuasi rupiah kan, kalau misalnya fluktuasi rupiah itu kemudian bisa dikendalikan, tentu mereka-mereka yang berbisnis yang terkait dengan masalah impor-ekspor, itu pasti akan lumayan meningkat kan gitu," kata Dian.
Di samping faktor domestik, industri perbankan juga mendapat angin segar dari meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berujung pada gencatan senjata. Kondisi tersebut memicu penurunan harga minyak mentah dunia secara gradual, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga energi di dalam negeri.
Mengenai kebijakan moneter, Dian menyinggung dampak dari pengetatan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
Dia mengingatkan bahwa selalu terdapat jeda waktu (time lag) sebelum kenaikan suku bunga bank sentral tersebut ditransmisikan sepenuhnya oleh perbankan ke sektor suku bunga kredit. Meski demikian, berdasarkan hasil survei OJK, persepsi pelaku pasar dinilai masih berada di zona positif.
Optimisme ini diharapkan mampu menjadi momentum balik arah bagi kinerja industri keuangan domestik setelah sempat dibayangi tekanan pasar dalam dua bulan terakhir.