sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Dibayangi Konflik Timur Tengah, BI Siagakan Intervensi di Pasar Spot dan DNDF

Banking editor Anggie Ariesta
02/03/2026 09:16 WIB
Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global.
Rupiah Dibayangi Konflik Timur Tengah, BI Siagakan Intervensi di Pasar Spot dan DNDF. Foto: iNews Media Group.
Rupiah Dibayangi Konflik Timur Tengah, BI Siagakan Intervensi di Pasar Spot dan DNDF. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global. Kondisi ini dipicu eskalasi militer di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa otoritas moneter akan terus memantau dinamika pasar secara seksama untuk memastikan rupiah tetap bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Untuk meredam volatilitas, BI memastikan akan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar domestik maupun luar negeri.

“Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” ujar Erwin dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).

Selain intervensi langsung, BI juga berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter guna meningkatkan efektivitas transmisi suku bunga di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," kata Erwin.

Perlu diketahui, rupiah sepekan terakhir (akhir Februari 2026) bergerak fluktuatif cenderung melemah, ditutup di kisaran Rp16.787-Rp16.888 per dolar AS. 

Tekanan utama berasal dari sentimen geopolitik AS-Iran, data ekonomi AS yang kuat (hawkish), serta ancaman tarif perdagangan global, dengan proyeksi pekan depan masih volatile di kisaran Rp16.700-Rp16.900.

Ketidakpastian pasar keuangan global saat ini berakar dari puncak ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. 

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi udara besar-besaran bersandi "Operation Epic Fury" yang menyasar kompleks militer dan fasilitas nuklir Iran. Serangan ini dilaporkan menimbulkan korban jiwa ratusan warga sipil dan indikasi gugurnya sejumlah pejabat tinggi militer Iran.

Kemudian Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke basis pasukan AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Irak.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pembatasan akses terhadap Selat Hormuz, rute transit vital bagi 20–25 persen pasokan minyak dan LNG dunia. Jalur ini dinyatakan tidak aman bagi pelayaran sipil.

Ancaman gangguan pasokan energi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan penguatan Dolar AS, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang (emerging markets) termasuk rupiah.

BI berharap tekanan terhadap nilai tukar dapat terkelola dengan baik sehingga tidak memberikan dampak inflasi yang berlebihan terhadap harga-harga barang di dalam negeri.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement