Kemudian Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke basis pasukan AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Irak.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pembatasan akses terhadap Selat Hormuz, rute transit vital bagi 20–25 persen pasokan minyak dan LNG dunia. Jalur ini dinyatakan tidak aman bagi pelayaran sipil.
Ancaman gangguan pasokan energi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan penguatan Dolar AS, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang (emerging markets) termasuk rupiah.
BI berharap tekanan terhadap nilai tukar dapat terkelola dengan baik sehingga tidak memberikan dampak inflasi yang berlebihan terhadap harga-harga barang di dalam negeri.
(NIA DEVIYANA)