Tingginya minat para manajer investasi global terlihat dari derasnya dana segar yang masuk (inflows) ke instrumen portofolio andalan, baik pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) nonresiden maupun Surat Berharga Negara (SBN) dalam kurun waktu dua hari berturut-turut.
"Pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik. Tingginya minat investor global tecermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan SBN yang pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun,” kata Destry.
Selain kedua instrumen konvensional tersebut, kepercayaan investor global yang tebal terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga dibuktikan oleh suksesnya debut penjualan perdana surat utang negara bentukan Danantara, yang sukses menyerap dana puluhan triliun rupiah di pasar sekunder.
Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” ujar Destry.
Tidak hanya mengandalkan instrumen moneter dalam negeri, Bank Indonesia juga secara agresif mempertebal benteng ketahanan eksternal melalui jalur diplomasi ekonomi regional. BI resmi meneken tiga kesepakatan strategis bersama bank sentral China (People's Bank of China/PBOC) dan otoritas moneter Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA).