AALI
9725
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2390
ACES
800
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7700
ADHI
805
ADMF
8100
ADMG
176
ADRO
2960
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
56
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1070
AKSI
290
ALDO
860
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.46
-0.84%
-4.57
IHSG
7016.06
-0.38%
-26.88
LQ45
1010.74
-0.81%
-8.25
HSI
22229.52
2.35%
+510.46
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

Songsong Era Digitalisasi, BPR dan BPRS Dianggap Perlu Segera IPO

BANKING
Taufan Sukma/IDX Channel
Sabtu, 18 Juni 2022 23:42 WIB
BPR dan BPRS diyakini masih memiliki berbagai peluang bisnis yang bisa dieksplorasi.
Songsong Era Digitalisasi, BPR dan BPRS Dianggap Perlu Segera IPO (foto: MNC Media)
Songsong Era Digitalisasi, BPR dan BPRS Dianggap Perlu Segera IPO (foto: MNC Media)

IDXChannel - Sebagai bagian tak terpisahkan dari industri perbankan nasional, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dinilai masih belum terlalu memaksimalkan potensi bisnisnya, sebagaimana telah dilakukan oleh bank-bank umum dan juga Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Padahal, BPR dan BPRS diyakini masih memiliki berbagai peluang bisnis yang bisa dieksplorasi, misalnya saja terkait pertumbuhan permintaan atas lembaga perbankan yang mampu menyediakan produk dan layanan berbasis digital. Dengan mulai merangsek masuk ke bisnis digital, BPR dan BPRS bisa menyediakan varian produk yang lebih inovatif, murah, aman dan mudah diakses oleh nasabah tanpa lagi terbatasi oleh wilayah dan waktu layanan.

"Tapi di lain pihak, di era digitalisasi ini, tantangan juga semakin besar soal risiko keamanan data, serangan siber dan perlindungan konsumen yang memadai. Sehingga BPR dan BPRS juga dituntut untuk mampu menyediakan sistem keamanan IT yang andal," ujar Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Didik Madiyono, dalam sebuah diskusi, Sabtu (18/6/2022).

Terkait tuntutan tersebut, menurut Didik, tentunya dibutuhkan kekuatan permodalan yang mencukupi bagi BPR dan BPRS agar dapat mengalokasikan anggaran penguatan IT sesuai tantangan yang ada di pasar. Kebutuhan tersebut menurut Didik dapat dipenuhi salah satunya melalui pendanaan dari pasar modal lewat Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO).

"Dengan IPO, BPR dan BPRS tidak hanya bisa lebih kuat secara permodalan, namun juga peningkatan efisiensi dan profitabilitas, serta memperkuat pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG). Ini penting bagi BPR dan BPRS agar dapat bertumbuh secara berkelanjutan serta selalu menjaga kinerja keuangan tetap sehat dan kuat," tegas Didik. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD